Mengelola Energi Diri

Meski stres sudah kita persepsikan sebagai hal yang positif, kita harus tetap awas bahwa dia bisa menelikung menjadi negatif dan menyakiti kita. Kalau kita tak siap, resikonya akan menyerang mental dan fisik. Maka gejala-gejala fisiologis dan kejiwaan, semacam mudah marah, depresi atau trauma adalah dampak-dampak ketidakberhasilan dalam mengelola stres.

Kuncinya bukan pada mengurangi aktifitas yang membuat stres namun terletak pada bagaimana kita menggunakan energi dengan baik. Sadarilah, sesungguhnya Allah telah anugerahkan energi dalam diri kita dengan sangat kompleks dan luar biasa. Energi itulah yang memastikan semua manusia sejatinya bisa menghadapi sedahsyat apapun badai kehidupan yang menghantam."Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberikanmu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS.An-Nahl:78)

Setidaknya Allah menganugerahkan 3 dimensi energy yang harus kita optimalkan:

 Energy Fisik

Fisik adalah penghubung antara jiwa kita dengan dunia. Setiap saat fisik selalu berada dalam kesibukan. Mulai dari yang tampak mata seperti berjalan, sampai ke yang kasat mata seperti pergantian sel dalam tubuh. Keadaan segar adalah kondisi saat energy kita penuh saat cukup istirahat. Sebaliknya fenomena saat lesu dan letih, adalah keadaan dimana kita terlanjur kehabisan energy fisik dan lupa mengisinya.

 Energy Mental

Energy mental adalah hal-hal yang berhubungan dengan cara dan kebiasaan berfikir. Disadari atau tidak, mental kita hampir tak pernah beristirahat dengan selalu mengajaknya memikirkan masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Energy mental selalu kita tuntut untuk menjawab, "dengan cara bagaimana" saya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Sehingga nyatanya, mental lebih banyak bekerja daripada fisik kita. Anda bisa saja seharian tidak beraktivitas fisik dengan hanya duduk dibelakang meja dan cuma mengaduk-ngaduk mouse komputer. Tapi bisa jadi anda pulang dalam keadaan lelah. Energy fisik anda tidak habis, yang habis adalah energy mental anda.

 Energy Spiritual

Setiap manusia nuraniya memiliki kecenderungan pada kebenaran Ilahiah. Itulah yang disebut fitrah. Bila energy mental berurusan dengan "bagaimana" saya melakukan, maka spiritual lebih bicara pada "mengapa" saya melakukan ini dan itu. Energy spiritual akan membuat kita kembali pada kejernihan nilai-nilai prinsip dalam hidup.

Terkadang, kesanggupan memaknai pekerjaan jauh lebih penting dari pekerjaan itu sendiri. Nah, kesadaran kita untuk selalu memaknai pekerjaan, lebih luas lagi memaknai hidup, akan membuat energy spiritual kita selalu berada dalam keadaan full charge.

 Manajemen Energy

Apa yang membedakan olahragawan angkat besi dengan buruh angkat-angkat di pasar yang bekerja mulai dini hari sampai malam hari. Sering kita dengar dimasa tuanya para buruh itu jatuh sakit. Sama-sama mengeluarkan energy. Tapi yang satu energy yang dikeluarkan di manage, sedang satunya dikeuarkan tidak teratur.

Seperti itulah. Banyak diantara kita yang memforsir habis energy tanpa sisa, atau menyia-nyiakan dengan menyimpannya tanpa menjadi sebuah gerak dan karya. Keduanya adalah gerak linier yang sama-sama akan mendatangkan stress. Terlalu banyak energy yang dikeluarkan, akan membuat kita kekurangan kapasitas. Begitupun sebaliknya, energy yang tak dikeluarkan, juga akan mengakibatkan stress karena menghambat aliran energy yang semestinya dikeluarkan. Kita akan mengalami atrofia atau kekakuan.

Seperti pegas yang belum pernah difungsikan, dia akan kaku. Sama halnya ketika kita istirahat atau leyeh-leyeh diatas kasur secara berlebihan. Maka fisik juga stress dalam kondisi lain dengan semakin malas, kaku, dan rasa tidak nyaman tanpa tahu di bagian tubuh sebelah mana rasa tidak nyaman itu.

Maka penggunaan energy yang baik adalah dengan mengeluarkannya secara teratur dan menentukan masa rehat secara proporsional. Ada saatnya energi itu harus terpakai dan ada masanya dilakukan pemulihan. Biar berfungsi dengan baik, ada saatnya pegas itu ditarik (dimelarkan) ada dan saatnya dilepaskan. Dalam fisika ini disebut osilasi, yaitu gerak variatif periodik. Dalam kehidupan sesungguhnya kita juga butuh melakukan osilasi.

Hiduplah seperti seorang olahragawan. Agar menjadi seorang atlit terbaik, mereka harus menambah porsi latihannya, terus mencari partner yang lebih berat dari sebelumnya, mengangkat barbell lebih berat lagi, lari lebih cepat lagi. Namun yang tidak kalah penting, mereka juga menentukan waktu pemulihan yang proporsional.

Ritme mereka sama seperti gambar detak jantung di monitor EKG (Elektro Kardio Grafi). Ritme menanjak dan menurun menunjukkan jantung itu sehat. Semakin tinggi dan curam ritmenya semakin sehat pula kondisi jantung. Sedangkan kita akan mengatakan orang ini bermasalah ketika ritme itu mulai "gemulai", tidak tajam. Dan benar-benar dinyatakan sudah tak bernyawa ketika ritmenya sudah lurus.

Seperti itulah hidup. Kita harus mengeluarakan energy yang kita miliki sebanyak-banyaknya. Lalu secara sadar dan utuh mengambil jeda untuk memulihkan energy fisik, mental dan spiritual kita. Berjalan linier dengan mengeluarkan energy terus-menerus atau menahannya dalam waktu lama akan membuat kita terserang kelelahan.

Hiduplah seperti pelari jarak pendek dan tidak seperti pelari marathon. Pelari jarak pendek memaksimalkan energy dan sadar harus berhenti saat energy belum benar-benar habis. Sedangkan lari marathon lebih terlihat seperti ritual penghabisan energy dengan masa pemulihan yang amat jauh. Hasilnya anda lihat, pelri jarak pendek secara fisik tubuhnya lebih berisi dan atletis daripada pelari marathon yang kurus dan selalu mengakhiri pertandingan dengan wajah kelelahan yang parah.

Betapa tentang teori osilasi (variasi antara mengeluarkan energy dan pemulihan) ini, Allah lebih tau daripada kita. Shalat 17 rakaat sehari tidak dilakukan dalam satu waktu. Melainkan disisipkan dalam setiap aktivitas keseharian kita. Alhasil, hidup kita menjadi dinamis dan variatif, saat energy fisik dan mental bergerak naik serta energy spiritual mulai mengering oleh kesibukan, sebelum benar-benar habis, kita diminta istirahat dengan shalat. Setelah cukup pemulihan dalam shalat, kita disuruh "fantashiruu fil Ardli" lagi, alias melanglang ke dunia lagi. Nanti Ashar rehat lagi. Kerja lagi, rehat lagi. Maka, ritmenya orang-orang mukmin, seperti jantung sehat di monitor EKG itu sehat. Sehat sekali!

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: