Dampak Pada Anak Jika Terlalu Sering Menonton TV dan Cara Menyiasatinya

Keluarga yang dahulu biasa berkumpul mengelilingi meja makan untuk bercakap-cakap, sekarang bukannya bertukar berita dan pandangan antara orang tua dan anak. Tetapi, sekarang meja makan telah berpindah ke depan televisi. Anak-anak lebih banyak membuang waktunya duduk di depan televisi daripada berkomunikasi dengan orang tuanya. Suami dan istri sampai saling beradu tegang untuk memegang remote control. Seorang ibu yang sedang asyik menonton tayangan sinetron mencubit anaknya yang menangis minta diambilkan susu. Televisi telah banyak membuat kalut komunikasi yang efektif. Anak-anak remaja lebih bisa menghafal lagu dari Britney Spears daripada tugas yang diberikan guru dan orangtua.

Contoh kasus bahwa film kartun yang sepertinya aman buat anak, ternyata tidak semuanya bagus untuk ditonton. Cobalah sesekali luangkan waktu Ayah dan Bunda ikut menonton film kartun bersama anak. Pada beberapa film tak jarang Ayah dan Bunda akan menemukan adegan-adegan kekerasan mulai dari kata-kata makian hingga adegan perkelahian dan pembunuhan.

Apa lagi dampak negatif menonton televisi pada anak selain obesitas? Ternyata menonton TV terkait erat dengan kecerdasan. Menonton TV saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.

Sedangkan penelitian lain mengenai pengaruh TV terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton TV setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Dari situ disimpulkan bahwa menonton TV pada anak dibawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk dibanding efek baiknya.

Anak yang sering menonton TV juga mengalami masalah pada pola tidurnya, seperti terlambat tidur, kurang tidur bahkan tak bisa tidur, cemas tanpa sebab dan terbangun malam.

Hanya dari menonton TV saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif, dan memecahkan masalah. Selain itu, TV bersifat satu arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengeksplorasi dunia  tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik.

JADI GIMANA DONG MENYIASATINYA ?

 Ajak si buah hati ke perpustakaan atau toko buku
Jadikan ini acara rutin. Biasakan anak untuk membaca buku. Bila sempat, sisakan waktu setiap hari, kalau tidak beberapa kali dalam seminggu untuk membacakan cerita kepada si buah hati atau biarkan sesekali si buah hati membacakan cerita untuk Ayah dan Bunda.

 Berkebun
TV menjauhkan kita dari alam. Padahal banyak hal yang bisa kita pelajari dari alam dan tidak bisa kita dapatkan dari menonton TV. Dengan mengajak anak berkebun, Ayah dan Bunda bisa mengajarkan banyak hal kepada si buah hati. Mulai membuat taman bunga sendiri atau bahkan dengan 1 pot saja misalnya. Dengan ini anak bisa belajar makna tumbuh dan bertanggung jawab. Apabila ia menyiram bunganya di pagi hari, ia akan ingat bahwa tanamannya seperti kita, mulai dari benih, tumbuh berkembang, dan kelak layu dan mati. Dan selalu perlu air dan matahari.

 Menulis surat
Menuangkan apa yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk tulisan memang agak sulit, tapi bukan hal yang tidak bisa untuk dikerjakan oleh anak. Ajak anak menulis surat ke nenek kakek atau saudara yang tinggal jauh.

Dan tentunya banyak kegiatan lain yang lebih positif daripada menonton TV. Mengurangi waktu menonton TV memang terkesan susah pada awalnya, tapi ternyata toh ada ribuan hal lain yang menarik untuk dilakukan bukan?

Kita tentu berharap buah hati kita menjadi anak yang shalih dam shalihah, teladan kita sebagai orang tua sangat diperhatikan oleh mereka. Selamat BERHIJRAH dengan tidak menggunakan Televisi sebagai sahabat buah hati kita. Jangan jadikan TV yang mendidik buah hati kita. Wallahu'alam.

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: