Tips Mengelola Keuangan Keluarga

Komunikasi antara suami istri merupakan jembatan terpenting dalam mengatur keuangan keluarga. Akan dialokasikan untuk apa, sumber pemasukan dari mana, dan bagaimana sistem alokasinya merupakan beberapa poin pokok yang hendaknya dibicarakan satu sama lain. 
   
Ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami. Istri bertanggung jawab untuk mengelola keuangan keluarga dengan sebaik-baiknya, untuk menjaga amanah suami. Penghasilan istri yang bekerja untuk dirinya sendiri bila digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, maka bernilai sedekah.

Manajemen keuangan keluarga harus menjaga keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran. Untuk itu diperlukan sifat qona'ah (merasa puas dengan yang dimilikinya), sehingga hidup sesuai dengan penghasilan dan belanja sesuai pendapatan.
    
Pengelolaan keuangan tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik saja. Pengelolaan lainnya antara lain adalah pemberian harta tanpa kompensasi apapun baik kepada orang lain, diri sendiri, atau orang yang nafkahnya menjadi kewajibannya. Yaitu berupa hadiah, hibah, sedekah, nafkah, zakat dan waris.
   
Nabi bersabda "Hendakknya salah seorang diantara kalian menahan hartanya ketika orang lain tidak mmepunyainya, dimana dia menyedekahkannya lalu (setelah itu) dia mengemis ngemis kepada orang lain. Sebap sedekah itu hanyalah dari orang  yang kaya.Ambilah harta yang engkau butuhkan. Kami tidak membutuhkannya. kemudian orang tersebut mengambil kembali hartanya"
Kekayaan yang dimaksud adalah harta yang digunakan untuk mencukupi diri dan keluarganya baik kebutuhan primer (sandang, pangan,papan) dan sekunder (sesuatu yang harus dipenuhi untuk taraf hidup yang lazim). Islam mengharamkan belanja yang bersifat isrof (berlebihan) dan tabzir (sia-sia) adalah belanja sesuatu yang haram, baik barang maupuan jasa, baik sedikit maupun banyak. Belanja untuk kebutuhan rumah tangga baik rutin maupun non rutin adalah pos yang paling fleksibel, besar kecilnya tergantung kebiasaan dan kemauan.
    
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan dalam mengelola keuangan:

1.TABUNGAN

Tabungan ada 2 macam yaitu tabungan dunia dan akherat. 
Tabungan dunia adalah alokasi dana untuk rencana jangka panjang (membeli rumah, kendaraan, tanah, sekolah anak, haji, menghadapi hari raya dll.) maupun cadangan untuk keperluan mendadak.
Tabungan akherat adalah alokasi dana untuk mendapat keuntungan di akherat semata seperti ZIS. Zakat dikeluarkan sesuai hukum syarat berkaitan dengan pemilikan barang, uang, jasa, usaha. Infaq dikeluarkan untuk pembiayaan kegiatan - kegiatan dakwah dan jihad fisabilillah. Sedekah dikeluarkan untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Suami istri harus memilikik komitmen agar tidak tergoda mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang perlu. Sesedikit apapun dana rumah tangga, jangan pernah lupa menyisihkan untuk tabungan. Sebaiknya tabungan (dunia, akherat) sudah disisihkan sebelum menentukan belanja rutin.

 2.BUATLAH PERENCANAAN

Anggaplah sistem keuangan rumah tangga seperti sebuah perusahaan yang memiliki sistem keuangan yang terkontrol. Hal ini diawali kesepakatan suami istri dalam mengatur keuangan. Rencanakan segala kebutuhan dan alokasikan dana sesuai kebutuhan.

Untuk melatih kefokusan dalam mengatur keuangan, kita mulai dengan menulis rencana keuangan. Perencanaan keuangan yang matang dan pengelolaan yang baik dapat menghindari kebobolan nafsu belanja berlebihan karena iming-iming kemudahan    berhutang, mengikuti trend gaya hidup dan bujukan iklan.

Jauhilah hutang apapun bentuknya baik kredit maupun yang lainnya. Kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena keinginan belum tentu kebutuhan. Usahakanlah mempertahankan pengeluaran sesuai anggaran walaupun ada kenaikan pendapatan.

 3.SIMPAN UANG DITEMPAT BERBEDA

Simpan dana tiap pos sesuai anggaran dalam amplop-amplop terpisah. Jika terdapat uang sisa ditiap-tiap amplop masukkan dalam tabungan.

 4.KONTROL

Penggunaan dana sebaiknya dipantau dengan ketat dan penuh disiplin. Oleh karena itu, catat semua pengeluaran baik rutin maupun tidak rutin setiap bulannya, termasuk pengeluaran keci-kecil.

5.LIBATKAN ANGGOTA KELUARGA

Berikan pemahaman keuangan untuk seluruh anggota keluarga dan libatkan dalam membuat rencana anggaran. Ajarkan tentang pentingnnya menabung kepada anak dengan mengelola uang jajan mereka.

6.EVALUASI REALISASI PENGELUARAN

Perhatikan baik-baik apa yang anda lakukan, apa yang anda habiskan, dan apa yang anda simpan???

7.PENGHEMATAN DANA YANG BISA DILAKUKAN

Belanjalah bahan pokok dan kebutuhan lain yang bisa bertahan sebulan sekaligus diawal gajian. Belanjalah dipasar induk atau grosir karena akan leih murah daripada membeli eceran. Terampilah mengolah menu hidangan yang sehat dan variatif meskipun dengan bahan yang sederhana, termasuk makanan camilan.

8.KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

Istri hendaknya mampu mengkomunikasikan kesulintannya dalam mengelola keuangan keluarga dengan suami, sehingga bisa bekerjasama mencari solusi jika terjadi masalah.

9.JIKA ISTRI TERPAKSA BEKERJA

Jika Ibu terpaksa bekerja, maka tidak boleh meninggalkan tanggung jawab dalam mendidik anak dan mengatur rumah tangga.

10.ISTIQOMAH MENGEMBAN DAKWAH

Sering krisis keuangan keluarga menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban mengemban dakwah, baik para ibu atau para bapak. Dalam keadaan sesulit apapun kita harus tetap melaksanakan kewajiban mengemban dakwah. Ingatlah para sahabat Rasulullah yang teraniaya, tersiksa, menderita, lemah dan lapar namun tetap teguh memperjuangkan kemuliaan Islam. "Barang siapa yang menolong Allah, maka pasti Allah akan menolongnya". Krisis keuangan rumah tangga seharusnya justru membuat dirinya semakin dekat dengan Allah dan menjadi ladang pahala bagi saudarnya sesama pengemban dakwah untuk saling tolong    menolong dalam kebenaran dan kesabaran.

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: