Muhasabah Menumbuhkan Optimisme

"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, dia termasuk orang yang rugi. Dan, barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, dia termasuk orang yang celaka".

SIKAP YANG BENAR MENGHADAPI TAHUN BARU

Ungkapan tersebut selalu kita dengar setiap memasuki tahun baru, yang utama tahun baru masehi. Biasanya, yang menyampaikan ungkapan tersebut selama ini adalah para ustadz atau mubaligh. Tujuannya adalah hendak membentengi kita agar tidak ikut hura-hura dalam hiruk-pikuk tahun baru yang sering diisi oleh perbuatan-perbuatan yang melampaui batas-batas ajaran Islam. Ungkapan tersebut tiada lain berisi ajakan untuk melakukan muhasabah.

Dalam memasuki tahun baru, Islam telah menuntun umatnya untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Bahkan, muhasabah yang dituntunkan Islam tidak sekedar muhasabah tahunan, melainkan setiap waktu dan kesempatan. Dan, muhasabah dalam tuntunan Islam adalah menghitung diri atau bertanya kepada diri sendiri tentang amal shalih apa yang sudah diperbuat untuk bekal nanti menghadapi perhitungan (hisab) Allah SWT di hari kiamat.

Apabila kegiatan menanyakan diri sendiri itu dilakukan, maka si penanya akan mendapatkan sebuah kesadaran. Selanjutnya, dari kesadaran diri tersebut, seseorang yang sedang melakukan muhasabah akan langsung beranjak bangkit (optimis) untuk segera mengukir amal shalih nyata, amal unggulan, ataupun prestasi.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, melakukan evaluasi diri atau muhasabah memang dituntunkan oleh Islam. Sebagai umat Islam, kita didorong untuk melakukan muhasabah. Hal tu diungkapkan oleh Allah SWT dalam firmannya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah da hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".(QS Al-Hasyr:18)

APA MAKSUD DARI MUHASABAH ITU?

Dalam mengemukakan tafsirnya terhadap ayat tersebut, Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW yang berasal dari Imam Ahmad. Suatu siang, para sahabat sedang bersama Rasulullah SAW, lalu datanglah suatu kaum dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat mereka. Rasul masuk, kemudian keluar dan lalu menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah. Rasul pun shalat dan berkhotbah. Beliau berkata:"Wahai manusia, bertakwalah kalian semua kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu...(QS.An-Nisa:1). Dan, beliau membaca ayat:"...dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),..."(QS.Al-Hasyr:18). Seketika itu, seorang laki-laki menyedekahkan dinar, dirham, baju, satu sha' kebaikan, dan satu sha' kurmanya.

Lalu, datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshor Basrah. Salah satu telapak tangannya hampir lemah, bahkan sudah lemah. Kemudian, para sahabat berturut-turut memberikan sedekahnya, hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit. Melihat hal itu, Rasulullah bersinar wajahnya, lalu beliau bersabda: "Barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya dan juga pahala dari orang yang mengerjakan kebaikan itu setelah dia meninggal dunia tanpa mengurangi sedikit pun ganjaran orang yang mengerjakan kebaikan tersebut. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jeleknya itu dan juga dosa dari orang yang melakukan perbuatan tersebut tanpa mengurangi sedikit pun dosa orang yang mengerjakan perbuatan itu" (HR.Muslim).

Berlandaskan riwayat yang amat menarik tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan, ayat'...dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),..." ayat tersebut mengandung pengertian: "Perhitungkanlah diri kalian sebelum nanti kalian diperhitungkan (dihisab) oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, dan perhatikanlah perbuatan baik (amal shalih) apa yang sudah kalian simpan/tabung ( untuk akhiratmu kelak dan untuk menghadap Tuhanmu"

Dari penafsiran Ibnu Katsir tersebut, maka kita tahu bahwa muhasabah adalah meneliti atau menghitung-hitung kebaikan yang sudah kita tabung (simpan) untuk akhirat maupun untuk bekal menghadap Allah SWT. Dengan kata lain, muhasabah ialah selalu bertanya pada diri sendiri tentang perbuaan baik (amal shalih) apa yang sudah dilakukan untuk akhirat.

Kisah yang terdapat di balik ayat 18 surat Al-Hasyr di atas sudah cukup jelas untuk menggambarkan makna muhasabah. Betapa para sahabat langsung mengeluarkan sedekahnya masing-masing setelah mereka mendapatkan motivasi dari ayat yang dibaca Nabi SAW tersebut. Begitu Nabi membacakannya untuk mereka, para sahabat spontan menyadari seraya melakukan muhasabah terhadap diri mereka masing-masing. Kemudian, setelah itu, mereka langsung mengambil tindakan, yakni Bersedekah.

ORANG YANG SELALU MUHASABAH ADALAH ORANG YANG CERDAS (AL-Kayyis)

Ayat 18 surat Al-Hasyr memang berisi motivasi atau dorongan untuk melakukan muhasabah. Bahkan, ayat itu sekaligus menggerakkan kita untuk segera menorehkan amal shalih dalam hidup kita Artinya, setelah kita melakukan evaluasi diri (muhasabah), maka seketika itu kita tergerak untuk bersegera melakukan kebaikan. Sebab, dengan muhasabah itu, seseorang akan menjadi tahu akan kebutuhannya terhadap amal shalih itu untuk bekal hidupnya di akhirat nanti.

Oleh karena itu, orang yang selalu melakukan muhasabah dan akhirnya bersegera melakukan amal shalih untuk kehidupan setelah mati termasuk orang yang cerdas (Al-Kayyis). Nabi SAW bersabda:"Orang yang cerdas adalah orang yang mengenal dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (akalnya) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan pada Allah" (HR.Ibnu Majah dan Ahmad).

Kenapa orang selalu bermuhasabah di sebut Nabi orang yang cerdas? Ya, karena dia telah mengenal dirinya (sadar) melalui proses muhasabah yang dia lakukan. Dan kecerdasannya itu lalu dibuktikannya dengan amal shalih yang dia perbuat dengan segera setelah proses muhasabah.

Muhasabah dengan demikian adalah menorehkan amal unggulan atau prestasi. Sebab, kita akan mendapatkan pahala ganda, yakni satu pahala karena kita sendiri yang melakukan dan satu lainnya dari orang yang mengamalkan prestasi kita itu, di mana tidak sedikitpun mengurangi pahala oramg yang melaksanakan prestasi kita itu.

THE POWER OF MUHASABAH (Kekuatan Muhasabah)

Dengan sering melakukan muhasabah, kita selalu merasa menjadi lebih baik, lebih bersemangat menghadapi tahun baru, optimis kepada Allah SWT, karena setelah kehidupan dunia masih ada kehidupan yang lebih baik lagi, yakni akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT:"Dan sesunguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan" (QS.Adh-Dhuha:4).

Optimisme terhadap kehidupan akhirat yang lebih baik itulah yang merupakan motivasi atau dorongan bag kita untuk semangat bekerja, beramal, atau berkarya. Dan, ini semua terjadi karena kekuatan muhasabah yang telah dituntunkan oleh Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan orang yang bodoh atau lemah akalnya (Al-Ajiz) ialah orang yang terus-menerus lalai untuk melakukan muhasabah. Dia tidak pernah menghitung-hitung dirinya sendiri mengenai amal shalih apa yang sudah dia miliki untuk akhirat dan bekalnya nanti ketika menghadap Tuhannya, Allah SWT. Oleh sebab itu, dia tidak pernah menyadari akan keadaan dirinya yang butuh kepada amal shalih itu. Makanya dia tidak tergerak untuk melakukan perbuatan baik.

Sebaiknya, dia selalu memperturutkan hawa nafsunya. Selanjutnya, ia selalu merasa pesimis melihat masa depan, karena dalam dirinya tidak ada keyakinan terhadap kehidupan akhirat sebagaimana orang-orang cerdas yang selalu melakukan muhasabah. Anehnya, orang tipe macam ini masih sempat berangan-angan bisa dimasukkan surga oleh Allah SWT?! Wallahu a'lam Bishowab.

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: