Ketika Wanita Tidak Berpuasa Ramadhan

Ada suatu kondisi dimana seorang wanita muslimah tidak bisa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang hukumnya wajib. Kondisi tersebut berlaku ketika seorang muslimah sedang mendapat haid, nifas, sedang sakit, dalam perjalanan, menyusui, hamil serta hal yang mengakibatkan puasanya batal.

Namun, saat muslimah meninggalkan ibadah puasa wajib maka ada konsekuensi yang harus dikerjakan sebagai penggantinya.
Adapun bentuk konsekuensinya yaitu dengan cara-cara dibawah ini:

1.Mengganti puasa Ramadhan dihari lain (qadha) 

Sebagai ganti dari tidak berpuasanya dibulan Ramadhan, maka seorang wanita wajib menggantinya dihari lain. Misalnya seorang wanita yang mendapat haid dan nifas, maka diharamkan untuk menjalankan puasa, namun bukan berarti bebas dari puasa tersebut. Karena pada dasarnya puasa Ramadhan tetap wajib bagi mereka sehingga ada kewajiban untuk menggantinya dihari lain, atau yang biasanya disebut puasa qadha.
   
Hal ini juga berlaku untuk wanita yang sedang hamil, menyusui atau sedang sakit, maka mereka diperbolehkan tidak berpuasa .Adapun bagi orang yang sedang bepergian jauh maka ia juga diperkenankan untuk tidak berpuasa dan menggantinya untuk meringankannya.Namun bila tidak terlalu terpaksa, sebaiknya tidak berbuka.

2.Membayar Fidyah 

Bagi yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut atau sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka Ia boleh berbuka dan diwajibkan membayar fidyah. Yaitu menganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang fakir miskin sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan.
Adapun kadar fidyah ada 3 pendapat dari para ulama:
  • Sebagian ulama berpendapat 1/2 sha' atau 2 mud karena 1 sha' adalah 4 mud yang kira-kira 1/2 sha' beratnya 1,5 kg
  • Sebagian yang lain berpendapat 1 mud dari makanan, yaitu kira-kira 750 gram.
  • Sebagian ulama lain berpendapat mengeluarkan satu porsi makanan yang masak beserta lauk pauknya.
3.Membayar kaffarah 

Jika seseorang yang tengah berpuasa dibulan Ramadhan bersetubuh dengan istrinya yang juga berpuasa, dan sang istri juga rela dengan hal itu, maka masing-masing dari keduanya dikenai hukum itfar (berbuka) secara sengaja. Dengan demikian, maka mereka wajib mengqadha puasanya masing-masing.
Mereka juga wajib untuk membayar kafarat (tebusan) yaitu:
 a.Memerdekakan budak.
 b.Berpuasa 2 bulan berturut-turut.
 c.Memberi makan 60 fakir miskin.

Demikian urutan membayar kaffarah berhubungan suami istri disiang hari ketika menjalankan puasa Ramadhan.Jadi bila tidak mampu memerdekakan budak, maka berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Namun, bila tidak sanggup menjalankan hal tersebut maka ia dapat memberi makan kepada 60 fakir miskin. Disamping membayar kaffarah ia tetap harus mengqadha puasa hari itu dan bertaubat kepada Allah SWT terhadap perbuatan yang dia lakukan. Wallahu a'lam bissowab.

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: