Akhlak Mulia Sebagai Inti Kebajikan

Diantara kandungan hadist Arba'in Nawawiyyah yang ke-27 adalah penjelasan Rasulullah SAW bahwa yang dimaksud dengan Al-birr adalah khusnul khuluq [akhlak yang baik].
Rasulullah SAW pernah bersabda "kebajikan itu adalah akhlak yang baik". Penegasan Rasulullah ini mirip dengan penegasan beliau bahwa haji adalah Arafah dimana tidak bisa disebut haji kalau tidak melakukan wuquf di Arafah. Ini berarti seseorang tidak memiliki kebajikan manakala ia tidak memiliki akhlak yang baik.

DEFINISI AKHLAK

Secara bahasa kata akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Menurut Ibnu Manzhur pakar bahasa Arab khuluq bermakna agama, tabiat dan perangai. Masih menurut beliau, antara akhlaq dan khalq (penciptaan) memiliki pertalian yang sangat dekat. Kalau khalq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang bersifat lahiriah sebagaimana yang diciptakan Allah, maka khulq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang bersifat batin.

Kedua hal ini khalq dan khuluq, terkadang disifati dengan baik dan terkadang disifati dengan buruk. Pahala dan dosa lebih dikaitkan dengan yang bersifat batin (khulq) daripada yang bersifat lahir (khalq).

Imam Ghasali rahimahullah mendefinisikan akhlak sebagai kondisi yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sementara menurut Imam Qurthubi akhlak adalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.

Intinya akhlak adalah tabiat, perangai, adab, dan nilai-nilai agama yang dipegang teguh oleh seseorang dan menjadi komitmen dirinya, sehingga seakan semua ini menjadi bagian dari penciptaan dirinya. Demikian menyatunya sehingga kemunculannya bersifat otomatis, tidak dibuat-buat, dan dipaksa-paksakan.

KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM

Agama Islam melalui Al-Quran dan As Sunnah banyak menjelaskan tentang kedudukan akhlak. Diantaranya adalah penegasan bahwa rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah,"aku tidak diutus oleh Allah SWT kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang baik". Sesungguhnya realisasi akhlak yang mulia merupakan inti risalah Nabi Muhammad SAW.

syiar-syiar ibadah islam diantaranya dimaksudkan untuk menggapai akhlak mulia. Shalat misalnya antara lain dimaksudkan untuk mentarbiyah dan mendidik manusia agar berhenti dari segala perbuatan keji dan munkar. Ibadah puasa dimaksudkan diantaranya untuk menggapai tingkatan taqwa. Berkaitan dengan ibadah puasa ini Rasulullah SAW bersabda "Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan palsu (bohong), maka tidak ada keperluan bagi Allah SWT terhadap puasa seseorang yang hanya sekedar meninggalkan makan dan minum.  

Zakat, infaq dan sedekah, diantara rahasianya adalah untuk menyucikan dan membersihkan jiwa dari berbagai sifat buruk dan tercela. Sedangkan ibadah haji difardhukan oleh Allah kepada mereka yang mampu dengan banyak maksud dan aturan misalnya agar orang yang beribadah haji terlatih untuk tidak berkata kotor, tidak berbuat fasik dan tidak banyak berdebat kusir.

AKHLAK BURUK BERARTI IMAN TAK SEMPURNA 

Rasulullah SAW bersumpah 3x dan menyatakan dan menyatakan bahwa seseorang tidaklah beriman manakala tetangganya tidak merasa aman darinya. Sabdanya, "Demi Allah, ia tidaklah beriman. demi Allah, ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman. Para sahabat bertanya "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, Yaitu seseorang dimana tetangganya tidak mendapatkan keamanan darinya"
     
Lalu dalam rangaka mendidik sahabat dan umatnya dari pembicaraan yang tidak baik, ngobrol ngalor ngidul yang tidak aman, serta hanya berbicara yang baik-baik beliau SAW bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik dan diam"

Selanjutnya jelas, kemuliaan akhlak menunjukkan kesempurnaan iman. Rasulullah bersabda "Orang-orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan manusia yang paling baik diantara kamu adaah yang paling baik terhadap istrinya"

Kemuliaan akhlak pada akhirnya akan mengantarkan orang-orang beriman ini kedalam surga. Rasulullah SAW bersabda"Yang paling banyak menyebapkan manusia masuk surga adalah ketaqwaan kepada Allah SWT dan akhlak yang baik, sementara yang paling banyak menyebapkan manusia masuk neraka adalah mulut dan kemaluan".

Akhlak yang baik, setelah bimbingan dan taufik Allah SWT merupakan buah kesungguhan usaha kita untuk mendidik, mentarbiyah dan melatih diri dengan berbagai sifat terpuji. Juga merupakan hasil dari jihad tanpa henti dan tak kenal lelah dalam memerangi segala perangai, tabiat dan sifat buruk yang mungkin muncul dalam diri.

Di antara usaha sungguh-sungguh ini adalah upaya terus memohon kepada Allah dengan do'a yang selalu dipanjatkan Rasulullah SAW pada setiap kali beliau membaca iftitah, Do'a yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Dalam do'a iftitah ini beliau memohon, "Ya Allah tunjukkanlah kepadaku akhlak yang terbaik, sebab tidak ada yang memberikan petunjuk kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Ya Allah palingkan aku dari akhlak yang buruk, sebab tidak ada yang memalingkan akhlak yang buruk dariku kecuali Engkau".
     
Semoga dengan usaha yang sungguh-sungguh dan jihad ini, kita terbimbing menjadi manusia yang berakhlaqul karimah.

RASULULLAH MEMILIKI AKHLAK PALING MULIA
     
Diantara keistimewaan Nabi Muhamad SAW adalah keberadaanya sebagai manusia yang memiliki akhlak tinggi, mulia dan agung. Akhlak ini dimiliki beliau semenjak belum menjadi Nabi dan Rasul, sebagaimana pernyataan Ummul Mukminin Khadijah ra,"Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, demi Allah engkau menyambung hubungan silahturrahim, berbicara benar, memikul beban orang lain, membantu yang tidak berpunya, menyuguhkan penghormatan untuk tamu dan membantu mereka yang terkena musibah"
     
Karena akhlak beliau yang mulia, luhur dan agung inilah ummul mukminin sangat yakin bahwa Muhammad SAW bukan manusia biasa. Oleh karena itu saat beliau menyampaikan bahwa dirinya Nabi dan Rasul.ummul mukminin langsung beriman tanpa sedikitpun keraguan. Perempuan mulia itu juga menggerakkan seluruh jiwa, kedudukan dan hartanya untuk keimanan dan dakwah.

Keagungan akhlak Rasulullah menjadi salah satu rahasia kemenangan beliau dalam menghadapi musuh-musuh. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS Al-Qalam:1-7.
Hal ini diakui pula oleh musuh-musuh dakwah Rasulullah sendiri. Buktinya tercatat dalam sirah nabawiyah bahwa beliau sangat dimusuhi oleh mereka sampai-sampai mereka bermaksud membunuh beliau dengan cara yang sangat keji. Namun disaat yang sama,musuh-musuhnya ini juga menitipkan benda-benda berharga milik mereka kepada Rasulullah. 

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: