Mendekati Allah Dengan Menyantuni Si Yatim

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa hari kiamat nanti Allah berfirman:

"Hai anak Adam, aku minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak mau memberi makan?"
"Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang engkaulah Tuhan semesta alam?"
"Apakah engkau tidak tau bahwa hamba-Ku sedang lapar, kenapa kamu tidak memberinya makan? Tahukah kamu, jika sekiranya kamu memberinya makan, niscaya kamu dapati aku disisihnya"

"Hai anak Adam, aku haus, kenapa kamu tidak memberi-Ku minum?"
"Ya Tuhan, bagamana aku memberi-Mu minum sedang Engkau adalah Tuhan alam semesta?"
"Tahukah kamu, jika sekiranya kamu memberinya air, tentu kamu akan mendapati Aku di sampingnya".

Hadits di atas menyadarkan kita betapa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Dia hadir kapan saja dan di mana saja. Tinggal kita, mau mendekat atau menjauh. Kalau kita mendekat, Allah itu sangat dekat. Tapi, kalau kita menjauh, Allah pun jauh.

Dalam hadits qudsi yang lain, Allah berfirman: "Siapa yang mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, Aku akan mendekat sedepa. Kalau ia datang menuju-Ku dengan berjalan kaki, akan Aku songsong dengan berlari". (HR. Bukhari dan Muslim)

Luar biasa, adakah yang lebih dekat dibanding Allah kepada hamba-Nya? Masihkah kita enggan mendekat kepada-Nya? Sementara jika kita dekat kepada Sang Kekasih, Sang Penolong, Sang Pemberi Solusi, tentu hati kita menjadi tentram, aman, damai.

Sarana mendekat kepada Allah itu banyak ragamnya. Allah sendiri menyediakan jalan agar hamba-Nya dapat dekat kepada-Nya. Diantaranya dengan melaksanakan shalat dengan khusyuk, mengunjungi orang sakit, menolong orang miskin, dan menyantuni anak-anak yatim adalah bentuk-bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan kedekatan yang sedemikian rupa kepada Allah, kita akan dapat merasakan kenikmatan hidup. Ada keyakinan, sehingga tidak terlalu dihantui oleh masa lalu yang tidak menggembirakan, juga tidak khawatir menghadapi masa depan. Sebab, dalam pikiran kita, Allah Maha Kuasa, Allah Maha segala-galanya. Jika Dia berkehendak, maka jadilah. Dengan keyakinan ini, untuk apa susah, khawatir, gelisah, gundah gulana, yang penting mendapat keridhaan-Nya.

Orang yang demikian tidak akan kikir, sebab orang yang kikir menandakan bahwa dia terlalu yakin kepada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki. Tidak yakin bahwa semua rezeki yang turun di bumi adalah milik Allah, yang diberikan kepada kita yang dikehendaki, dan akan dicabut dari siapa saja yang dikehendaki.

Mereka juga yakin bahwa Allah tidak pernah bangkrut. Allah tidak pernah terpengaruh resesi ekonomi dan evaluasi. Tidak, Allah tetap kaya. Allah tetap pemberi rezeki.

Karenanya untuk apa kikir dan kurang perduli fakir miskin dan anak yatim? Untuk itu, kiat sebagai Muslim kita harus istiqamah menbantu fakir miskin dan anak yatim, yakni dengan terus-menerus menjadi donatur mereka. Karena, lewat cara itulah, kita akan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga semua yang kita berikan bisa bermanfaat bagi mereka terutama untuk masa depan mereka.

__________________________________________________________________________
Lihat Juga 25 Artikel Terbaru Dari Kategori Yang Sama: